Artikel ini disusun oleh Raqi Faisal Ahmed Sabit. Jika Anda menemukan kesalahan, silakan kirim pesan (DM) kepada kami melalui WhatsApp +880 1886-608999. Baca naskah asli berbahasa Bengali → Terjemahan makna Al-Qur'an: Indonesian Islamic Affairs Ministry.

← Seni Belajar — 30 Hari

senibelajar

Stabilo Boss tidak pernah dibuat untuk belajar

Pada tahun 1963 alat ini dibuat sebagai alat desain — agar kata-kata dalam iklan menarik perhatian mata.

senibelajarstabilobelajarcatatanpelajar
Stabilo Boss tidak pernah dibuat untuk belajar

Saya sampaikan satu hal, mungkin awalnya terasa agak keras.

Stabilo tidak pernah dibuat untuk belajar.

Pada tahun 1963 benda ini dibuat hampir tanpa disengaja. Ia hadir di pasar sebagai alat desain — untuk membuat kata-kata seperti "refund" atau "free sample" pada kertas iklan menarik perhatian mata. Pada dekade tujuh puluhan, orang mulai perlahan-lahan membawanya ke dunia belajar.

Namun membuat sesuatu menarik perhatian mata dan menanamkannya kuat di otak — keduanya adalah dua pekerjaan yang sama sekali berbeda.

Seberapa berbeda? Saya berikan satu perbandingan.

Dalam sebuah meta-analisis besar tentang metode belajar, diuji satu hal bernama wakeful rest — setelah mempelajari sesuatu yang baru, cukup duduk diam sepuluh menit sambil menatap dinding. Gagasannya, jika otak diberi sedikit istirahat, ia akan memutar ulang sendiri sambungan-sambungan baru itu dan memperkuatnya. Pengaruh yang ditemukan kecil hingga sedang, dan positif.

Lalu bagaimana pengaruh sekadar menyorot saat belajar? Praktis nol.

Artinya, duduk menatap dinding dengan pandangan kosong pun lebih bermanfaat daripada itu.

Padahal hampir setiap survei besar dalam dua puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa 50 hingga 80 persen orang menjadikan menyorot sebagai salah satu strategi membaca utama mereka.

Sekarang pertanyaannya — mengapa sesuatu yang begitu tidak berguna tetap begitu populer?

Jawabannya, melakukannya terasa menyenangkan. Terasa seperti sedang bekerja.

Otak kita sebenarnya tidak tahu seberapa banyak yang telah ia pelajari. Ia tidak bisa mengetuk gudang ingatan dan bertanya, "Sudah berapa banyak?" — dari dalam tidak datang jawaban, "Nah, 72 persen sudah tertanam." Maka ia menebak dari petunjuk tidak langsung. Dan petunjuk yang paling besar adalah — seberapa mudah rasanya.

Garis sorotan tampak menonjol di atas halaman, terlihat mata, terasa mudah. Dan perasaan mudah itulah yang keliru kita anggap sebagai belajar. Namanya illusion of fluency.

Persoalan sebenarnya lebih dalam. Ketika satu gagasan demi gagasan masuk ke kepala dan Anda merasakan bahwa semuanya saling berkaitan — saat itu Anda merasa kewalahan dan bingung. Padahal justru menemukan sambungan-sambungan itulah yang merupakan belajar yang sesungguhnya, yang bermutu tinggi.

Dan saat itulah Anda mengambil stabilo. Anda menyorot beberapa baris. Anda merasa tenang, dan kebingungan pun hilang.

Tetapi mengapa hilang? Karena Anda berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tadi membingungkan Anda.

Menyorot pada dasarnya menutup pertanyaan-pertanyaan sulit di otak, yang justru mencari jawabannya itulah belajar yang sebenarnya.

Dan terkait dengannya ada jebakan kedua — misinterpreted effort. Orang keliru mengira, "Terasa sulit berarti pasti tidak berhasil." Padahal hampir setiap strategi belajar yang efektif melibatkan lebih banyak upaya mental. Akibatnya, metode yang paling bermanfaat justru Anda tinggalkan karena mengira "tidak berhasil".

Lalu beberapa hari kemudian, setelah separuhnya terlupa, Anda menyalahkan diri sendiri — "Daya ingatku lemah", "Aku tidak sepandai orang lain".

Itu bukan salah Anda. Yang salah adalah metodenya, yang diam-diam mengalahkan Anda.

Jadi, apakah stabilonya harus dibuang?

Tidak. Hanya ada satu cara membuatnya berguna — padukan dengan satu teknik berpikir mendalam.

1. Sebelum menarik garis, bertanyalah — "Apakah baris ini pilihan terbaik? Atau paragraf di atasnya lebih penting?" Membandingkan inilah yang disebut higher-order learning. Dengan begitu, garis itu menjadi hasil keputusan, bukan kebiasaan.

2. Setelah menarik garis, tuliskan satu pertanyaan. Singkat saja di margin — "Mengapa ini benar?" atau "Di mana pengecualiannya?" Ini adalah priming — menjaga rasa ingin tahu di otak tetap menyala, agar ketika dibaca kembali ia terus mencari jawabannya.

3. Pilihlah dengan tegas. Jika perlu, jangan sorot apa pun di seluruh halaman. Berhenti sejenak untuk berpikir saja sudah meningkatkan mutu perhatian dan ingatan.

4. Jangan mengukur diri dengan kecepatan. Berapa halaman yang Anda baca per menit — hitungan ini nyaris tidak bermakna.

Dan hal yang paling penting saya sampaikan di akhir —

Pemborosan terbesar adalah menjadi mahir dalam pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan sama sekali.

Besok hari ke-14 — cara membaca tulisan sulit dengan cepat sambil menjaga fokus.

Semoga Allah melindungi kita dari menipu diri sendiri. Amin.

Tulisan ini diambil dari sebagian buku "Seni Belajar". Seluruh kerangka, bab-bab lainnya, dan bagian ilmu, doa, dan ruqyah ada di dalam buku tersebut — Lihat bukunya

Baca juga