seni belajar
Mencatat Bukan Berarti Belajar
Buku catatan makin penuh, tetapi kepala tetap kosong — inilah sebabnya.
Bayangkan sebuah adegan.
Kelas usai. Buku catatan Anda penuh — tiga halaman catatan, tulisan tangan yang rapi, dua warna pena.
Sesampainya di rumah, Anda membuka buku itu. Lalu Anda sadar — tidak ada yang teringat sama sekali.
Anda memang menulis. Tetapi Anda tidak memikirkannya.
Inilah ilusi terbesar: mencatat bukan berarti belajar.
Tujuannya harus dibalik. Usahakan agar sebagian besar waktu terpakai untuk berpikir, membangun hubungan, dan mengolah informasi — dan catatan hanya menjadi penunjang pemikiran itu.
Singkatnya — tulis lebih sedikit, pikirkan lebih banyak.
Sekarang tiga jebakan yang memberi janji palsu tentang belajar —
- Highlight — membuat sesuatu tampak mencolok di mata tidak sama dengan menancapkannya di kepala (besok saya akan menjelaskannya lebih rinci).
- Copy-paste — tangan bergerak, kepala tidak.
- Hanya mengandalkan warna — warna berguna untuk merapikan, bukan untuk memahamkan.
Sebagai ganti ketiganya, lakukan ini: hubungkan hal itu dengan gambaran besar dan pelajari saat itu juga. Pikiran "nanti saja belajarnya" — itulah jebakan yang sebenarnya.
Sekarang soal kerangka.
Kebanyakan orang membuat catatan linear — dari atas ke bawah, baris demi baris. Ini memudahkan untuk menulis, tetapi tidak untuk belajar.
Sebab pengetahuan itu tidak linear. Pengetahuan adalah sebuah jaringan. Satu gagasan terhubung dengan lima hal, dan tiga di antaranya terhubung lagi dengan bab lain.
Karena itu, beralihlah secara bertahap ke catatan nonlinear berbentuk jaringan.
Satu hal yang halus lagi: flowchart pun bukan solusi yang sempurna. Flowchart membuat rantai — dari satu ke dua, dari dua ke tiga. Pengetahuan yang nyata memiliki hubungan menyamping, dan hal-hal di dalamnya berada dalam kelompok-kelompok. Beri penekanan pada kedua hal itu.
Jika memungkinkan, gunakan aplikasi digital free-form jenis Infinite Canvas — yang ruangnya tanpa batas dan isinya bisa dipindahkan sesuka hati.
Tiga Strategi yang Ampuh
1. Manfaatkan spatial memory. Otak luar biasa pandai mengingat tempat. Di sudut halaman mana Anda menulis apa — itulah yang kelak bekerja sebagai petunjuk. Maka letakkan hal-hal sejenis di area yang sama.
2. Buatlah memory cue yang dilebih-lebihkan. Hal biasa mudah terlupa, hal aneh mudah teringat. Gambarlah sebuah gambar lucu di samping sebuah gagasan. Cara ini berhasil.
3. Tulislah pertanyaan penghubung untuk diri sendiri. Tulis pertanyaan di margin catatan — "Mengapa ini penting?", "Apa jadinya jika ini tidak ada?", "Apakah ini mirip dengan hal di bab itu?"
Nanti ketika membuka catatan, pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan memaksa Anda melakukan active recall. Ini cara termudah untuk terhindar dari jebakan sekadar melirik lalu "mengenali" (recognition).
Aturan Waktu
Aturan 24 jam: Tinjau catatan sekali dalam 24 jam setelah menulis. Jika dilakukan dalam rentang itu, waktu singkat saja sudah cukup; jika terlambat, Anda hampir harus membaca dari awal lagi.
Buatlah catatan berdasarkan topik, bukan kuliah. Meskipun satu topik tersebar di tiga kelas, di catatan hendaklah ia berkumpul di satu tempat. Sebab ujian tidak disusun menurut kuliah, tetapi menurut topik.
Pre-study: Sebelum pekan dimulai, luangkan waktu hanya 20 menit. Lihat apa yang akan diajarkan pekan depan, lalu siapkan templat atau kerangka. Di kelas, Anda tinggal mengisi bagian-bagian yang kosong — seluruh perhatian akan terpakai untuk memahami.
Dan terakhir — di mana flashcard?
Temukan bagian catatan yang kurang terhubung dan lemah. Bagian yang tidak menyambung dengan apa pun, yang tidak ada jalan lain selain dihafalkan begitu saja — hanya itulah yang dimasukkan ke flashcard.
Biarlah semua sisanya dipelajari di catatan utama.
Besok hari ke-13 — Highlighter: kebiasaan yang paling banyak menipu orang.
Bukalah catatan hari ini sekali sebelum waktu ini besok — hanya itulah isi aturan 24 jam.
Semoga Allah menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat. Amin.
Tulisan ini mengambil satu bagian dari buku "Seni Belajar". Seluruh kerangka, bab-bab lainnya, serta bagian ilmu, doa, dan ruqyah ada di dalam buku tersebut — Lihat bukunya
Baca juga
Anda belajar selama 10 jam. Yang benar-benar dipelajari hanya setara 1 jam.
Hitungan yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepada Anda — padahal inilah yang menentukan segalanya.
Di mana sebenarnya hambatan Anda?
Semua orang mencari teknik. Tetapi kalau teknik diterapkan di tempat yang salah, tidak ada yang berubah.
Anda sudah melakukan semuanya dengan benar. Lalu mengapa hasilnya tidak bergerak?
Anda menjalankan Anki, melakukan active recall, mengikuti spaced repetition — tetapi tetap saja mentok.