seni belajar
Jangan simpan semuanya di kepala. Jangan pula mencatat semuanya.
Keduanya sama-sama menghambat belajar. Ada jalan ketiga di antara keduanya.
Anda tentu pernah melihat dua macam pelajar di kelas.
Satu kelompok duduk tanpa menulis apa pun. "Saya mendengarkan dan memahaminya, tidak perlu menulis." Beberapa saat kemudian, terlihat semuanya kusut di kepala.
Kelompok lainnya menyalin setiap kata di papan tulis persis apa adanya. Buku catatannya penuh, tampak indah.
Keduanya salah. Dan yang kedua lebih berbahaya.
Mengapa? Karena jika disalin persis, perasaan telah bekerja keras tetap ada, padahal proses belajar yang penting justru dilewati. Tangan bergerak, otak tidak.
Ada jalan ketiga di antara keduanya. Namanya — berpikir di atas kertas.
Perbedaannya begini: saat mencatat, kertas adalah tempat menyimpan ingatan. Saat berpikir di atas kertas, kertas adalah meja berpikir.
Anda menurunkan potongan-potongan itu ke kertas — kata kunci, gagasan, pertanyaan. Lalu di depan mata, Anda menggeser dan menatanya sambil berpikir. Beban di kepala berkurang, dan seluruh tenaga otak terpakai untuk pekerjaan yang sebenarnya — yaitu mencari hubungan.
Tiga prinsip. Mudah diingat.
Prinsip 1 — Silakan keliru (make it wrong)
Tulislah kata-kata kunci dengan cepat. Lalu tariklah hubungan berdasarkan dugaan, dan buatlah kelompok. Apakah sudah benar atau belum — jangan dipikirkan dulu.
Musuh sebenarnya di sini adalah dorongan untuk membuat semuanya sempurna. Kenali dorongan itu, dan hentikan.
Sebab ada hal yang menarik: dugaan yang keliru pun menyiapkan otak untuk belajar lebih cepat nanti. Ketika Anda menduga "ini mungkin terjadi karena itu", lalu belakangan tahu bahwa dugaan itu salah — jawaban yang benar akan tertanam jauh lebih dalam. Karena otak Anda sudah sibuk dengan pertanyaan itu sebelumnya.
Singkatnya: kertas yang penuh kekeliruan jauh lebih berguna daripada kertas kosong.
Prinsip 2 — Buat lebih singkat (make it shorter)
Jangan menulis kalimat utuh. Cukup kata kunci. Dan tidak perlu dibuat indah.
Mengapa? Karena ketika terpaksa mengurangi kata, Anda harus mengambil keputusan — "Apa inti dari seluruh paragraf ini?" Mengambil keputusan itulah belajar.
Dan ada satu keuntungan besar lain dari kata yang sedikit: pola jadi terlihat. Hubungan yang tertangkap saat melihat sepuluh kata kunci dalam satu halaman tidak akan tertangkap dalam sepuluh paragraf.
Prinsip 3 — Lakukan lagi (make it again)
Catatan terasa berantakan? Ada kekeliruan yang ketahuan? Bagus. Susun ulang.
Regroup — kelompokkan kembali kelompok-kelompok itu dari awal. Rearrange — ubah posisinya. Reconnect — tarik lagi sambungan-sambungannya.
Dan di sinilah hal yang paling mengejutkan:
Penyusunan ulang inilah yang paling menguatkan ingatan — padahal saat itu Anda tidak sedang mempelajari informasi baru.
Bayangkan sejenak. Tanpa membaca hal baru, hanya dengan menyusun ulang hal-hal yang sudah diketahui, Anda mendapat manfaat paling besar. Sebab saat menyusun, otak memegang setiap potongan, menimbang tempatnya, dan membangun kembali hubungan-hubungannya.
Di mana ini berguna?
Tidak hanya dalam belajar — dalam rapat, saat memecahkan masalah sendirian, dalam perencanaan, bahkan ketika mengambil keputusan yang sulit. Di mana pun yang membutuhkan berpikir, ketiga prinsip ini melipatgandakan kecepatan dan kejernihan berpikir.
Tugas hari ini: Dari bab yang Anda baca hari ini, tutup buku lalu tulis 15 kata kunci. Kemudian tarik panah untuk membuat hubungan. Kalau keliru, biarkan saja. Terakhir, susun ulang sekali lagi.
Pekerjaan sepuluh menit. Tetapi Anda sendiri akan merasakan perbedaannya.
Besok hari ke-12 — aturan mencatat yang efektif: tulis sedikit, berpikir lebih banyak.
Hari ini, tulislah 15 kata kunci di selembar kertas lalu tariklah hubungannya. Jangan berusaha membuatnya indah.
Semoga Allah menganugerahkan hikmah kepada kita. Amin.
Tulisan ini berkaitan dengan salah satu bagian buku "Seni Belajar". Seluruh kerangkanya, bab-bab lainnya, serta bagian ilmu, doa, dan ruqyah ada di dalam buku tersebut — Lihat bukunya
Baca juga
Anda belajar selama 10 jam. Yang benar-benar dipelajari hanya setara 1 jam.
Hitungan yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepada Anda — padahal inilah yang menentukan segalanya.
Di mana sebenarnya hambatan Anda?
Semua orang mencari teknik. Tetapi kalau teknik diterapkan di tempat yang salah, tidak ada yang berubah.
Anda sudah melakukan semuanya dengan benar. Lalu mengapa hasilnya tidak bergerak?
Anda menjalankan Anki, melakukan active recall, mengikuti spaced repetition — tetapi tetap saja mentok.