seni belajar
Kelas yang sama. Guru yang sama. Hasil yang berbeda.
Perbedaannya bukan pada bakat — melainkan pada lima kebiasaan kecil.
Kelas yang sama. Guru yang sama. Buku yang sama. Waktu yang sama.
Namun hasilnya berbeda.
Kita mudah saja berkata, "Dia lebih cerdas." Tetapi dari pengamatan saya terhadap para pelajar selama bertahun-tahun, perbedaannya hampir tidak pernah terletak pada bakat.
Perbedaannya ada pada beberapa kebiasaan kecil. Hari ini saya akan membahas kelima kebiasaan itu.
Kebiasaan 1 — Mulailah dengan Priming
Kebanyakan pelajar membuka buku lalu mulai membaca dari baris pertama.
Pelajar yang berhasil tidak melakukan itu. Mereka lebih dulu melihat sekilas seluruh bab dengan cepat — judul, gambar, diagram, kata-kata yang dicetak tebal. Lalu mereka membuat sebuah wireframe mind map yang sederhana.
Tujuannya bukan untuk memahami. Tujuannya adalah menangkap gambaran besarnya — kira-kira apa saja isi bab ini, dan bagaimana semuanya tersusun.
Dan satu hal penting: jangan tenggelam dalam detail. Ini pekerjaan 5-10 menit.
Apa manfaatnya? Nanti ketika Anda membaca secara rinci, setiap informasi akan menempati sebuah kerangka. Dan informasi yang menempati kerangka bertahan jauh lebih lama.
Kebiasaan 2 — Aktiflah di Kelas
Jangan hanya duduk. Ajukan lebih dari satu pertanyaan setiap menit — meskipun hanya dalam hati.
Dan usahakan pertanyaan itu berjenis "mengapa" dan "bagaimana".
Pertanyaan "apa" memberi informasi. Pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana" mengikat informasi pada gambaran besar — dan ikatan itulah ingatan.
Kebiasaan 3 — Revisi pertama dalam 12 jam
Ini soal waktu, bukan soal kerja keras.
Revisi pertama dalam 12 jam, jika memungkinkan sebelum tidur.
Mengapa sebelum tidur? Karena dengan begitu Anda mendapatkan seluruh manfaat sleep-dependent memory consolidation — saat tidur, otak merapikan dan menyimpan ingatan-ingatan yang masih segar itu.
Dan kalau terlambat? Karena forgetting curve, sebagian besar akan terhapus, dan revisi pun menjadi hampir seperti belajar dari awal.
Hanya pekerjaan 10-15 menit. Tetapi kebiasaan yang satu ini membuat perbedaan.
Kebiasaan 4 — Buatlah catatan yang ringkas dan tidak berbasis kata-kata
Ada satu teknik di sini — delayed note-taking.
Jangan menulis sambil mendengar. Dengarkan dulu, sederhanakan dalam pikiran, pahami. Setelah itu barulah tulis bagian yang sudah disaring — dan jika memungkinkan dalam bentuk gambar atau diagram.
Sebab mendengar dan menulis sekaligus berarti mengerjakan keduanya dengan buruk.
Dan perhatikan agar cognitive load tetap berada di titik tengah yang pas — tidak semudah itu sehingga otak tertidur, tetapi juga tidak sesulit itu sehingga otak kewalahan.
Kebiasaan 5 — Latihlah recall, bukan recognition
Inilah yang paling penting, sekaligus yang paling diabaikan.
Recognition = membaca catatan lalu merasa, "Ya, ini saya tahu." Recall = mampu mengeluarkannya sendiri dari ingatan dengan menutup buku.
Dalam ujian, recognition tidak berguna. Ujian menuntut recall.
Karena itu — tinggalkan kebiasaan membaca catatan berulang-ulang. Itu nyaman, tetapi menipu (ingat? illusion of fluency).
Sebagai gantinya:
- Belajarlah dengan cara yang berbeda setiap kali — sekali dengan menulis, sekali dengan mengucapkan, sekali dengan menggambar diagram.
- Cobalah mengajar seorang pelajar rekaan. Di mana Anda tersendat, di situlah kelemahan Anda. Tidak ada diagnosis yang lebih tepat daripada ini.
Dan terakhir — aturan emas
Selalu tantang bagian-bagian yang lemah.
Kita cenderung mengulang-ulang apa yang secara alami sudah kita kuasai, karena mengerjakannya terasa menyenangkan. Perasaan bisa itu nyaman.
Tetapi apa hasilnya?
Justru bagian yang paling membutuhkan perbaikan itulah yang terlewatkan.
Karena itu, mulai hari ini lakukan sebaliknya. Saat duduk untuk belajar, ambillah lebih dulu bab yang selama ini Anda hindari.
Anda akan merasa tidak nyaman. Itulah tanda bahwa Anda menyentuh bagian yang tepat.
Besok, hari ke-26 — teknik yang benar untuk belajar cepat sebelum ujian (cramming dengan cara yang benar).
Mulailah dengan bab yang hari ini paling Anda hindari. Hanya hari ini.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Amin.
Tulisan ini mengangkat satu bagian dari buku "Seni Belajar". Seluruh kerangkanya, bab-bab lainnya, serta bagian ilmu, doa, dan ruqyah ada di dalam buku tersebut — Lihat bukunya
Baca juga
Anda belajar selama 10 jam. Yang benar-benar dipelajari hanya setara 1 jam.
Hitungan yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepada Anda — padahal inilah yang menentukan segalanya.
Di mana sebenarnya hambatan Anda?
Semua orang mencari teknik. Tetapi kalau teknik diterapkan di tempat yang salah, tidak ada yang berubah.
Anda sudah melakukan semuanya dengan benar. Lalu mengapa hasilnya tidak bergerak?
Anda menjalankan Anki, melakukan active recall, mengikuti spaced repetition — tetapi tetap saja mentok.