Artikel ini disusun oleh Raqi Faisal Ahmed Sabit. Jika Anda menemukan kesalahan, silakan kirim pesan (DM) kepada kami melalui WhatsApp +880 1886-608999. Baca naskah asli berbahasa Bengali → Terjemahan makna Al-Qur'an: Indonesian Islamic Affairs Ministry.

← Mengobati Orang Sakit dengan Sedekah

Sedekah

Tiga Kisah, Satu Perawi: Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij

Dari delapan belas kisah dalam buku «من عجائب العلاج بالصدقة» (Kisah-Kisah Menakjubkan Pengobatan dengan Sedekah), sebagian besarnya sama sekali tidak dike

Sedekahruqyahverifikasi hadis
Isi artikel
  1. Kisah 1: Penyakit Tenggorokan yang Sukar Disembuhkan pada Seorang Anak Perempuan dan Sedekah dalam Jumlah Besar
  2. Kisah 2: Saudara yang Tiba-Tiba Pingsan dan Sedekah Tujuh Ribu Riyal
  3. Kisah 3: Demam Putri Kecil dan 20 Karung Beras, 20 Karton Ayam
  4. Siapakah Sang Perawi? Identitas Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij dan Verifikasinya
  5. Klasifikasi yang Tepat: Sumbernya Benar, tetapi Kisahnya Tidak Dapat Diverifikasi
  6. Rujukan
  7. Rujukan sumber dari buku itu sendiri
  8. Sumber-sumber terpercaya lainnya

Dari delapan belas kisah dalam buku «من عجائب العلاج بالصدقة» (Kisah-Kisah Menakjubkan Pengobatan dengan Sedekah), sebagian besarnya sama sekali tidak diketahui sumbernya — tanpa nama, tanpa rujukan. Namun tiga kisah tampak sedikit berbeda dari keramaian ini, karena hanya pada ketiganya buku itu menyebutkan dengan jelas dari siapa kisah-kisah tersebut berasal — seseorang bernama "Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij", yang mendengarnya langsung dari "pemilik" kisah itu, yakni orang yang mengalaminya, lalu kemudian menceritakannya kepada orang-orang. Dalam tulisan ini ketiga kisah itu disajikan, lalu dijelaskan apa sebenarnya yang ditemukan melalui penelitian independen tentang identitas "syaikh" ini, dan seberapa besar nilai pembuktiannya.

Kisah 1: Penyakit Tenggorokan yang Sukar Disembuhkan pada Seorang Anak Perempuan dan Sedekah dalam Jumlah Besar

Dalam buku, kisah ini berjudul "Kisah Kedelapan: Karena Sedekah, Allah Menyembuhkan Putrinya". Buku itu menulis: "Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij — semoga Allah memberinya taufik — berkata: Kisah ini diceritakan kepadaku langsung oleh pemiliknya."

Orang itu bercerita bahwa ia memiliki seorang putri kecil yang tenggorokannya terserang penyakit. Setelah berkeliling ke banyak rumah sakit dan banyak dokter, tidak ada hasilnya — penyakit itu menjadi sukar disembuhkan, dan penderitaan anak itu membuat seluruh keluarga tidak bisa tidur. Ia harus berulang kali disuntik hanya untuk meredakan rasa sakit. Pada saat itu, seorang yang saleh menelepon dan menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ: "Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah" (داووا مرضاكم بالصدقة). Ia menjawab bahwa ia memang sudah banyak bersedekah. Orang saleh itu lalu berkata bahwa kali ini ia harus bersedekah dengan niat untuk kesembuhan putrinya. Pertama kali, ia memberikan sedekah yang sedikit kepada seorang miskin — tidak ada perubahan. Kedua kalinya, ia diberi tahu bahwa ia harus bersedekah sesuai dengan besarnya hartanya. Kali ini ia memenuhi mobilnya dengan beras, ayam, dan berbagai bahan makanan, lalu membagikannya kepada banyak orang miskin. Ia sendiri heran dan berkata — ia baru menyadari bahwa suntikan terakhir yang diterima putrinya adalah suntikan tepat sebelum sedekahnya; setelah itu anak itu sembuh total. Buku menambahkan, saat kejadian itu usia putrinya tiga tahun dan ia tidak lagi mengidap penyakit apa pun.

Kisah 2: Saudara yang Tiba-Tiba Pingsan dan Sedekah Tujuh Ribu Riyal

Dalam buku, "Kisah Kesepuluh: Ia Terkena 'Ain, Lalu Allah Menyembuhkannya Melalui Sedekah" — di sini pun buku menulis: "Syaikh berkata lagi: Ini kisah lain yang diceritakan kepadaku oleh pemiliknya."

Sang perawi bercerita bahwa pada suatu hari saudaranya pergi ke suatu tempat dan berdiri di jalan, lalu tanpa keluhan apa pun tiba-tiba pingsan dan jatuh — "seolah-olah kepalanya ditembak dengan senapan". Mula-mula keluarga mengira mungkin terkena 'ain, atau tumor kanker, atau ada darah yang membeku di otak. Pemeriksaan dan rontgen dilakukan di beberapa rumah sakit dan klinik, tetapi tidak ditemukan masalah apa pun di kepalanya — padahal karena rasa sakit yang hebat, ia tidak bisa tidur maupun bernapas. Sang perawi bertanya kepada saudaranya apakah ia punya uang yang bisa disedekahkan atas namanya. Saudaranya setuju. Lalu ia mengambil sekitar tujuh ribu riyal dan menelepon seorang yang saleh yang mengenal orang-orang miskin, agar uang itu dibagikan kepada mereka. Sang perawi bersumpah demi Allah — saudaranya sembuh dari penyakit itu pada hari itu juga, bahkan sebelum uang itu sampai kepada orang-orang miskin.

Kisah 3: Demam Putri Kecil dan 20 Karung Beras, 20 Karton Ayam

Kisah ketiga muncul dalam buku dengan judul "Kisah Kesebelas: Putri Kecilnya Terkena Demam, Lalu Allah Menyembuhkannya Melalui Sedekahnya", dan di sini pun kalimat rujukannya sama: "Syaikh berkata lagi: Ini kisah lain yang diceritakan kepadaku oleh pemiliknya."

Sang perawi bercerita bahwa putri kecilnya menderita demam dan panas, dan berhenti makan. Setelah dibawa ke beberapa pusat pengobatan, suhu tubuhnya tidak turun, bahkan keadaannya memburuk. Dengan hati cemas ia pulang ke rumah, lalu istrinya menyarankan agar bersedekah atas nama putri mereka. Ia menelepon seseorang yang berhubungan dengan orang-orang miskin dan berkata agar setelah salat Asar di masjid, orang itu mengambil 20 karung beras dan 20 karton ayam darinya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sang perawi bersumpah demi Allah bahwa ia tidak melebih-lebihkan — hanya lima menit setelah meletakkan gagang telepon, ia melihat putri kecilnya berlari, bermain, melompat-lompat di atas sofa — telah sembuh total.

Siapakah Sang Perawi? Identitas Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij dan Verifikasinya

Hal yang patut diperhatikan adalah — buku tidak pernah menyebut nama sang ayah, sang saudara, atau keluarga itu. Pada ketiga kisah, hanya satu kalimat tetap yang berulang: "Syaikh ... berkata: ... Ini diceritakan/dikisahkan/disampaikan kepadaku oleh pemiliknya." Artinya, dalam rantai itu hanya ada satu bagian yang tetap dan bernama — sang pengumpul/perawi sendiri, Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij.

Pada tahap penelitian seri ini, nama inilah yang dicoba diverifikasi secara independen, dan hasilnya jelas. Tepat ketiga kisah ini — dengan angka yang sama dan dalam bahasa Arab yang hampir persis sama — ditemukan di alamat saaid.org/rasael/345.htm, yaitu artikel/risalah yang diterbitkan sendiri oleh Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij. Di sana, pada kisah penyakit tenggorokan, kalimat "لي بنت صغيرة أصابها مرض في حلقها..." (Aku punya seorang putri kecil, tenggorokannya terserang penyakit...) ditemukan persis sama. Pada kisah saudara, "سقط مغشياً عليه و كأنه رمي بطلقة من بندقية على رأسه...سحبت ما يقارب السبعة آلاف ريال" (Ia pingsan dan jatuh, seolah-olah kepalanya ditembak dengan senapan... aku mengambil sekitar tujuh ribu riyal) — kalimat ini pun cocok hampir persis. Pada kisah demam putri kecil, "اشتكت طفلتي من الحمى و الحرارة...تأخذ مني 20 كيس أرز و 20 كرتون دجاج" (Putri kecilku menderita demam dan panas... ambillah dariku 20 karung beras dan 20 karton ayam) — uraian ini pun cocok dengan angka yang sama.

Tidak hanya itu — kisah penyakit tenggorokan juga ditemukan dikutip secara terpisah di sebuah akun X/Twitter bernama "جواهر العلم" (Jawahirul Ilm), dan di sana tertulis dengan jelas: "الشيخ / سليمان المفرج – وفقه الله –" (Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij, semoga Allah memberinya taufik). Artinya, dua tempat yang sama sekali terpisah di luar buku ini — yang satu situs yang diterbitkannya sendiri, yang lain akun media sosial yang mengutipnya dengan menyebut namanya — sampai pada kesimpulan yang sama: ketiga kisah ini memang berasal dari koleksi dan terbitan Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij. Rujukan sumber dalam buku itu bukan rekaan, juga bukan dibebankan kepada orang yang salah — itu benar.

Klasifikasi yang Tepat: Sumbernya Benar, tetapi Kisahnya Tidak Dapat Diverifikasi

Di sini dua pertanyaan yang berbeda tidak boleh dicampuradukkan. Pertanyaan pertama: "Apakah orang yang namanya dikaitkan buku itu dengan kisah-kisah ini benar-benar mengatakan atau menuliskannya?" — jawabannya ya, dan itu kini terkonfirmasi secara independen. Pertanyaan kedua: "Apakah kisah-kisah ini benar-benar terjadi pada sang ayah, sang saudara, dan keluarga itu, dan apakah benar-benar terjadi persis seperti itu?" — untuk ini tidak ada bukti independen. Syaikh Al-Mufarrij sendiri pun bukan saksi mata kisah-kisah ini — ia seorang pengumpul, yang menuliskan apa yang ia dengar dari mulut orang lain. Dan orang-orang yang darinya ia mendengar tidak pernah dikenal namanya — selain "pemiliknya", tidak ada identitas lain mereka dalam buku maupun dalam artikel di saaid.org.

Karena itulah ketiga kisah ini diberi status B — sumbernya disebutkan dengan benar, dan dokumen sumbernya (artikel asli di saaid.org) berhasil ditemukan dan dikonfirmasi secara independen, tetapi isi pokok kisahnya sendiri tetap sebagai kesaksian yang tidak diketahui namanya. Status ini berada tepat di tengah-tengah dua jenis kisah lain dalam seri ini. Di satu sisi ada sembilan kisah dalam buku yang sama sekali tidak diketahui sumbernya (status D) — yang tidak memiliki rujukan selain "disebutkan" atau "seseorang berkata", dan siapa yang mengatakannya pun tidak diketahui. Ketiga kisah ini lebih kuat daripada itu, karena setidaknya nama pengumpulnya diketahui dan nama itu telah dikonfirmasi secara independen. Di sisi lain ada dua kisah Al-Hakim Abu Abdillah dan Ibnul Mubarak (status A/B) — yang tercatat selama berabad-abad dalam kitab sejarah klasik seperti karya Imam Al-Baihaqi dan Imam Adz-Dzahabi, dan dikutip dalam banyak sumber yang berdiri sendiri. Kedua kisah itu lebih kuat daripada ketiga kisah ini, karena sumbernya adalah kitab sejarah yang otoritatif, yang telah melewati ujian berabad-abad — sedangkan sumber di sini adalah terbitan daring mutakhir yang dikumpulkan sendiri oleh seorang dai masa kini.

Singkatnya — "seorang guru agama yang nyata dan dapat diidentifikasi benar-benar telah mengumpulkan dan menerbitkan uraian-uraian ini" — di satu sisi ini jauh lebih dari sekadar mengatakan "ini hanya desas-desus internet", karena di sini ada nama dan terbitan yang nyata dan dapat diverifikasi. Namun di sisi lain, ini belum "setegas informasi sejarah yang tercatat dalam sebuah kitab klasik", karena tokoh-tokoh utama kisah itu tidak pernah menyebutkan nama dan tidak ada lagi cara independen untuk memverifikasi kebenaran ucapan mereka. Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij tidak sedang diragukan di sini — justru sebaliknya, karena kejujuran dan identitasnya telah dipastikan, kisah-kisah ini naik satu tingkat dari "desas-desus tanpa nama". Tetapi ia sendiri pun mengatakan apa yang ia dengar — dan apa yang hanya didengar tidak pernah menjadi bukti yang setara dengan kesaksian saksi mata. Maka ketiga kisah ini sebaiknya dibaca persis sebagaimana adanya — kesaksian keagamaan yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh seorang dai yang dikenal dan tepercaya, bukan peristiwa yang terbukti secara medis atau historis.

Apa artinya hal ini secara praktis bagi pembaca? Saat mendengar atau membaca ketiga kisah ini, bagi seorang Muslim wajar untuk menerimanya sebagai kesaksian yang bersifat nasihat, yang dihimpun oleh seorang dai yang dikenal dan tepercaya — persis seperti kisah bernasihat mana pun yang didengar dari seorang ulama yang dikenal. Namun tidaklah tepat menyajikannya sebagai bukti pamungkas untuk klaim "sedekah menyembuhkan penyakit", atau menyajikan angka-angka ini (7, 000 riyal; 20 karung beras dan 20 karton ayam) sebagai statistik yang pasti — karena semua itu disampaikan dari ingatan satu orang yang tidak dikenal namanya, dan tidak diperiksa ulang secara independen. Membaca sumber dan kisah secara terpisah adalah jalan yang paling jujur di sini.

Rujukan

Rujukan sumber dari buku itu sendiri

  • Kisah kedelapan (penyakit tenggorokan putri), kisah kesepuluh (saudara yang pingsan dan tujuh ribu riyal), dan kisah kesebelas (demam putri kecil) — pada ketiganya buku tersebut menyebutkan sumbernya: "Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij — semoga Allah memberinya taufik — berkata: Kisah ini diceritakan/disampaikan/dituturkan kepadaku langsung oleh pemiliknya sendiri."

Sumber-sumber terpercaya lainnya

  • saaid.org/rasael/345.htm — artikel/risalah yang diterbitkan sendiri oleh Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij, yang memuat ketiga kisah tersebut hampir persis sama dalam bahasa Arab, lengkap dengan angka-angka yang sama (7,000 riyal; 20 karung beras dan 20 karton ayam).
  • Akun X/Twitter "جواهر العلم" (Jawahirul Ilm) — mengutip kisah penyakit tenggorokan secara terpisah dan dengan jelas menisbatkannya kepada "الشيخ / سليمان المفرج – وفقه الله –" (Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij), tanpa kaitan dengan buku tersebut.
  • Utas forum "قصص واقعية مؤثرة في بيان أثر الصدقة" dan forum hawamer.com — unggahan ulang dari ketiga kisah yang sama, tetapi pada dasarnya hanya penyebaran ulang dari tulisan asli al-Mufarrij yang sama, bukan sumber baru yang benar-benar terpisah.

Catatan: Sumber-sumber di atas memastikan bahwa rujukan sumber dalam buku (Syaikh Sulaiman Al-Mufarrij) memang benar. Namun semuanya tidak memastikan secara independen kebenaran inti kisah-kisah itu (pengalaman nyata sang ayah, saudara, atau keluarga) — karena orang-orang tersebut tidak pernah dikenal namanya.

Tulisan ini disusun berdasarkan kisah-kisah yang diriwayatkan dalam kitab «من عجائب العلاج بالصدقة» serta penelusuran sumber yang independen atas kisah-kisah tersebut.

Baca juga