Sedekah
6 langkah agar sedekah berdampak mendalam
Dalam tulisan-tulisan sebelumnya pada seri kami, kita telah melihat bahwa sedekah adalah salah satu cara syar'i yang terbukti untuk menghilangkan penyakit
Isi artikel
- Apakah cukup dengan bersedekah, atau ada aturannya juga?
- Langkah 1 — Bersedekahlah dari harta Anda yang suci (halal)
- Langkah 2 — Niatkan kesembuhan orang sakit saat bersedekah
- Langkah 3 — Bermurah hatilah dalam bersedekah jika mampu
- Langkah 4 — Ikhlaskan sedekah semata-mata demi keridaan Allah
- Langkah 5 — Carilah orang yang membutuhkan, jujur, dan bertakwa sebagai penerima sedekah
- Langkah 6 — Berprasangka baiklah kepada Allah, Sang Penyembuh
- Jalankan semua langkah bersama-sama
- Rujukan
- Al-Qur'an
- Hadis
Apakah cukup dengan bersedekah, atau ada aturannya juga?
Dalam tulisan-tulisan sebelumnya pada seri kami, kita telah melihat bahwa sedekah adalah salah satu cara syar'i yang terbukti untuk menghilangkan penyakit dan musibah, tetapi ia bukan pengganti dokter atau ruqyah, melainkan sarana tambahan di samping keduanya. Kini muncul pertanyaan yang wajar: apakah dengan cara apa pun, pada waktu kapan pun, dan dengan niat apa pun, sedekah akan memberi hasil yang sama? Penulis kitab «من عجائب العلاج بالصدقة» memberikan jawaban yang jelas dan praktis atas pertanyaan ini. Ia menulis: "Jika Anda ingin mengobati orang sakit Anda dengan sedekah dan ingin memetik hasilnya dengan izin Allah Ta'ala... maka ikutilah langkah-langkah mudah berikut ini." Kemudian ia menyebutkan enam langkah, masing-masing disertai dalil dari Al-Qur'an atau hadis. Dalam tulisan hari ini kita akan melihat keenam langkah itu satu per satu: apa artinya, apa dalilnya, dan bagaimana Anda dapat menerapkannya dalam hidup Anda mulai hari ini.
Langkah 1 — Bersedekahlah dari harta Anda yang suci (halal)
Langkah pertama ini yang paling mendasar, namun banyak orang tidak memperhatikannya. Penulis berkata: "Jika Anda ingin orang sakit Anda sembuh dengan sedekah secara cepat dan sempurna, maka bersedekahlah dari bagian harta yang suci (halal) yang Allah Ta'ala berikan kepada Anda; sebab Allah Ta'ala itu suci, dan Dia tidak menerima kecuali yang suci." Sebagai dalilnya, ia membawakan ayat dari Surah Al-Baqarah:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيـدٌ﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (Surah Al-Baqara 2:267 — Indonesian Islamic Affairs Ministry)
Terapkan hari ini: Sebelum menyisihkan uang untuk sedekah, tanyakan sekali pada diri sendiri: apakah sumber uang ini bersih? Jangan bersedekah dari penghasilan yang meragukan, bagian yang bercampur riba, atau uang suap; berilah dari bagian halal yang ada, meskipun sedikit, itulah yang dapat diterima di sisi Allah. Banyak orang mengira, semakin berat penyakit, semakin kurang penting sumber sedekah; kenyataannya ayat itu justru mengatakan sebaliknya. Allah sendiri Mahasuci, karena itu Dia tidak menyukai sedekah dari harta yang tidak suci atau meragukan, bahkan kekhawatiran sedekah itu ditolak justru lebih besar. Maka sebelum bersedekah, penting untuk menghitung dengan jujur terlebih dahulu; mulailah dari bagian gaji, keuntungan usaha, atau hadiah yang pasti halal.
Langkah 2 — Niatkan kesembuhan orang sakit saat bersedekah
Tidak cukup hanya menyerahkan uang atau makanan dengan tangan; penulis menekankan niat. Ia berkata: "Ketika Anda bersedekah, lakukanlah itu dengan niat kesembuhan orang sakit Anda." Sebagai dalil, ia membawakan hadis yang masyhur:
( إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوى )<br>«Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.» — diriwayatkan oleh Bukhari.
Terapkan hari ini: Pada saat menyerahkan sedekah, katakan dalam hati: "Ya Allah, aku bersedekah ini dengan niat kesembuhan diriku/orang sakitku." Tidak perlu diucapkan dengan lisan; cukup menghadirkan niat ini di dalam hati.
Langkah 3 — Bermurah hatilah dalam bersedekah jika mampu
Langkah ini berlaku terutama bagi mereka yang memiliki kelapangan. Penulis menulis: "Jika Anda kaya, bermurah hatilah dalam bersedekah. Nabi ﷺ adalah seorang yang dermawan dan murah hati; beliau memberi seolah-olah 'tidak takut miskin' — diriwayatkan oleh Muslim." Yang patut diperhatikan, langkah ini mencegah sikap kikir; terutama ketika penyakitnya berat dan kebutuhannya besar, orang yang mampu seharusnya mengatasi kecenderungan memberi sedikit dengan berhitung-hitung.
Terapkan hari ini: Jika Allah telah memberi Anda kelapangan, maka ketika menentukan jumlah sedekah untuk orang sakit, tengoklah kemampuan diri dengan jujur; jangan sekadar menggugurkan kewajiban dengan memberi sedikit karena kekikiran. Ingatlah, bermurah hati bukan berarti harus memberi sesuatu yang mustahil atau dengan berutang, melainkan memilih bagian terbaik dari apa yang mudah dan lapang untuk diberikan. Terutama ketika orang tercinta sakit parah, jangan menunda sedekah dengan berkata "nanti saja dilihat"; tampil dengan cepat dan lapang hati sesuai kemampuan itulah yang sesuai dengan teladan Nabi ﷺ.
Langkah 4 — Ikhlaskan sedekah semata-mata demi keridaan Allah
Langkah ini lebih mementingkan keadaan hati daripada amalan lahiriah. Penulis berkata: "Sebab semakin sempurna suatu amalan dan semakin ikhlas karena Allah Ta'ala, semakin sempurna dan semakin mulia pula pahala dan hasilnya." Kemudian ia mengingatkan hadis tentang tujuh orang yang akan Allah naungi di bawah naungan Arsy-Nya pada hari kiamat, yang salah satunya adalah orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi:
( ورجل تصدق بصدقـة فأخفاها حتى لا تعلم يمينـه ما تنفق شماله )<br>«Dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kanannya tidak tahu apa yang dinafkahkan tangan kirinya.» — Muttafaq 'alaih.
Penulis menambahkan di sini: "Di dalamnya terdapat dorongan besar untuk berikhlas dalam beramal." (Perlu dicatat, ada pembahasan teknis dalam ilmu hadis tentang susunan kata hadis ini, yaitu tangan mana yang disebut lebih dahulu dan mana yang kemudian, yang berada di luar cakupan tulisan praktis ini; di sini kami menyampaikan teks asli kitab itu apa adanya.)
Terapkan hari ini: Setelah bersedekah, jauhkan diri dari dorongan untuk mengumumkannya di media sosial atau memperlihatkannya kepada orang. Sedapat mungkin, simpan sedekah untuk orang sakit itu antara diri Anda dan Allah saja; bahkan lebih baik lagi jika diberikan tanpa memberi tahu si sakit.
Langkah 5 — Carilah orang yang membutuhkan, jujur, dan bertakwa sebagai penerima sedekah
Kepada siapa Anda bersedekah juga penting. Dalam bahasa penulis: "Agar sedekah Anda berdampak mendalam dengan izin Allah Ta'ala, berusahalah semampu Anda mencari seseorang yang membutuhkan, jujur, dan bertakwa." Sebagai dalil, ia membawakan:
( لا تُصَاحِب إلا مؤمناً ولا يأكل طعامَك إلا تقي )<br>«Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan jangan sampai ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.» — diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, ini hadis hasan.
Kemudian ia menambahkan satu poin penting: "Semakin miskin orang yang menerima dan semakin ia membutuhkan sedekah, semakin besar dan mulia pula dampak sedekah itu!" Dan terakhir ia mengingatkan bahwa sedekah tidak terbatas pada manusia: "Pada setiap hati yang basah (makhluk hidup) ada pahala" — Muttafaq 'alaih, secara marfu'. Maka "jika Anda memberi makan seekor hewan yang membutuhkan dengan niat kesembuhan orang sakit Anda, insya Allah Ta'ala ia akan memperoleh kesembuhan."
Terapkan hari ini: Sebelum bersedekah, luangkan waktu sejenak untuk berpikir: di antara orang-orang yang Anda kenal, di antara tetangga, atau di lingkungan Anda, siapa yang benar-benar membutuhkan namun tidak meminta-minta. Meskipun mencari orang seperti itu memerlukan sedikit usaha tambahan, menurut penulis di sinilah dampak sedekah menjadi paling besar, karena semakin tajam kebutuhan orang yang benar-benar membutuhkan, semakin besar pula berkah bantuan yang diberikan kepadanya. Dan jika Anda tidak mendapati orang seperti itu di dekat Anda, memberi makan hewan yang kelaparan juga merupakan alternatif yang sah dan berpahala; jangan mengira sedekah hanya terbatas pada manusia. Memberi makanan atau memberi air kepada hewan dan burung yang kelaparan di sekitar rumah, semua ini juga dapat dilakukan dengan niat kesembuhan orang sakit, dan itu akan dihitung sebagai sedekah.
Langkah 6 — Berprasangka baiklah kepada Allah, Sang Penyembuh
Langkah terakhir ini yang paling dekat dengan hati; ia bukan amalan tangan, melainkan keadaan hati. Penulis menulis: "Berprasangka baiklah kepada Tuhan Anda yang Maha Penyayang, Sang Penyembuh, yakinlah kepada-Nya, dan percayalah bahwa Dia akan menyembuhkan orang sakit Anda." Ia mengingatkan agar tidak ada sikap ragu seperti "coba saya lihat dulu" setelah bersedekah; sebaliknya, "bersikaplah teguh, yakin, dan penuh percaya." Dalam bahasa penulis sendiri, prinsip pokok langkah ini adalah: "Allah memperlakukan hamba-Nya sesuai prasangkanya kepada-Nya... selama hamba itu berprasangka baik kepada-Nya, Allah tidak akan pernah meninggalkannya." Pada bagian ini kitab tidak mengutip hadis tersendiri; ini disampaikan sebagai penjelasan dan saran penulis sendiri, karena itu kami pun tidak menambahkan sanad atau rujukan apa pun di sini, melainkan mengikuti pernyataan kitab itu sendiri.
Terapkan hari ini: Setelah bersedekah, jangan gelisah menunggu hasil, dan jangan menyimpan keraguan dalam hati. Ingatkan diri Anda sekali setiap hari, "Allah adalah Sang Penyembuh, Dia pasti telah menyiapkan kebaikan bagi orang sakit saya", baik itu datang cepat maupun lambat.
Jalankan semua langkah bersama-sama
Keenam langkah ini bukan saran pilihan yang terpisah-pisah; semuanya saling melengkapi. Bersedekahlah dari harta halal, niatkan kesembuhan orang sakit, bermurah hatilah jika mampu, berilah secara sembunyi-sembunyi dengan ikhlas, carilah orang atau hewan yang benar-benar membutuhkan, dan terakhir, berprasangka baiklah dengan teguh kepada Allah. Keenam hal ini bila bersatu, dalam bahasa penulis, menjadikan sedekah berdampak "mendalam". Jika satu langkah terlewat, sedekah tidak menjadi tertolak di sisi Allah, tetapi penulis meyakinkan bahwa semakin banyak keenam langkah ini dijalankan, semakin sedekah itu membawa berkahnya yang penuh. Mulai hari ini, sebelum memberikan sedekah berikutnya, ingatlah keenam langkah ini sekali; kesadaran sekecil itu akan membuat sedekah Anda semakin bermakna, insya Allah.
Rujukan
Al-Qur'an
- Surah Al-Baqarah, ayat 267 — ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ...﴾ — perintah menafkahkan harta yang halal
Hadis
- «إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوى» — «Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya...» — diriwayatkan oleh Bukhari. (Catatan asli yang disebutkan dalam kitab: dalam teks Arab sumbernya, dua kata "ما نوى" tercetak menyambung; perlu diperiksa pada salinan aslinya. Teks Arab dipertahankan sebagaimana adanya dalam kitab.)
- Kedermawanan Nabi ﷺ — "seakan-akan beliau tidak takut miskin" — diriwayatkan oleh Muslim. (Dalam buku, untuk bagian ini tidak dikutip teks Arab aslinya secara terpisah, hanya ada riwayatnya dalam bahasa Anda sendiri.)
- Hadis tujuh orang (bagian sedekah sembunyi-sembunyi) — «ورجل تصدق بصدقـة فأخفاها حتى لا تعلم يمينـه ما تنفق شماله» — «Dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kanannya tidak tahu apa yang dinafkahkan tangan kirinya.» — Muttafaq 'alaih. (Catatan tersendiri dari kitab: redaksi masyhur hadis ini adalah «حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه», yaitu tangan kiri tidak tahu apa yang dinafkahkan tangan kanan; dalam buku aslinya kanan dan kiri tercetak terbalik. Perlu dicocokkan dengan salinan aslinya; dalam tulisan ini teks kitab dipertahankan apa adanya, dan tidak diklaim adanya keputusan akhir atas perdebatan susunan kata dalam ilmu hadis ini.)
- «لا تُصَاحِب إلا مؤمناً ولا يأكل طعامَك إلا تقي» — «Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan jangan sampai ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.» — diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, hadis hasan.
- "Pada setiap hati yang basah (makhluk hidup) ada pahala" — Muttafaq 'alaih, secara marfu'. (Dalam buku, teks Arab aslinya untuk bagian ini tidak dikutip secara terpisah, hanya ada riwayatnya dalam bahasa Anda sendiri.)
- Langkah keenam (berbaik sangka kepada Allah) — di dalam kitab, tidak ada hadis tersendiri yang dikutip untuk langkah ini; langkah ini hadir sebagai penjelasan dan nasihat dari penulis sendiri, sehingga di sini tidak ditambahkan sanad lain.
Tulisan ini disusun berdasarkan pembahasan dalam kitab «من عجائب العلاج بالصدقة». Penulis kitab aslinya: sekelompok penuntut ilmu (kompilasi).
Baca juga
Apakah Sedekah Pengganti Ruqyah atau Dokter?
Bagi anggota keluarga dari seseorang yang sakit parah yang sedang membaca tulisan ini, mari kita mulai dengan hal yang paling perlu ia dengar lebih dahulu
Harta Anda Adalah Amanah dari Allah
Pada empat bagian sebelumnya dalam seri ini, kita telah membahas beberapa persoalan yang rumit dan halus — perdebatan tentang sanad sebuah hadis tertentu,
Tetap Sabar Setelah Bersedekah: Hikmah di Balik Hasil yang Tertunda
Pada seri-seri sebelumnya kita telah melihat — tidak ada keraguan tentang keutamaan sedekah, tetapi hadis "Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sed