Tersedia juga dalam: বাংলা · English · Bahasa Melayu · Türkçe · Русский · Oʻzbekcha · العربية · اردو
Dua sumber yang berbeda untuk gejala yang sama — dan keduanya punya penyelesaian yang berbeda
Keberadaan pembisik diakui dalam Al-Qur'an dan cara kerjanya pun dijelaskan — ia berbisik di dalam hati, lalu menyingkir.
Para sahabat datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Di hati kami muncul pikiran yang kami sendiri takut untuk mengucapkannya." Beliau bersabda: "Apakah kalian benar-benar merasakannya?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Itulah bukti keimanan yang jelas." (Muslim 132)
Hadis ini penting untuk dipahami. Datangnya pikiran buruk bukanlah dosa; justru merasa tersiksa karena pikiran itu membuktikan bahwa iman ada di dalam hati. Setan tidak melempar batu ke rumah yang sudah runtuh.
Namun tidak semua waswas itu sama. Ketika keraguan kembali berulang dalam pola yang tetap, ketika orang tersebut merasa terpaksa mengulang perbuatan yang sama — wudhu berulang-ulang, cuci tangan berulang-ulang, memeriksa pintu berulang-ulang — maka inilah bentuk yang dikenal dari gangguan obsesif-kompulsif, yaitu kondisi yang dapat diobati.
Di sini dua hal dapat benar sekaligus, dan biasanya memang demikian. Setan menyerang pada titik yang lemah; dan penyakit jiwa menciptakan titik lemah itu. Karena itu ruqyah dan pengobatan tidak saling bertentangan — jika salah satunya ditinggalkan dan hanya berpegang pada yang lain, penderitalah yang dirugikan.
Strategi syariat melawan waswas sungguh menakjubkan — bukan berusaha mengalahkannya dengan argumen, melainkan tidak memedulikannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa jika hal itu terjadi, hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dan berhenti.
Sebab waswas bukanlah sesuatu yang bisa dimenangkan dengan berdebat. Semakin banyak Anda menjawab, semakin banyak pertanyaan baru yang datang. Mengucapkan 'Amantu billah' lalu mengalihkan pokok pikiran itulah penyelesaiannya.
Dalam hal keraguan pun kaidah fikih sudah jelas: sesuatu yang yakin tidak dibatalkan oleh keraguan. Jika Anda yakin sudah berwudhu — lalu ragu apakah wudhu itu batal, anggaplah wudhu masih ada. Dengan mengikuti satu kaidah ini saja, banyak kesulitan akan berkurang.
Membaca zikir pagi dan petang secara teratur, Ayat Kursi sebelum tidur, dan Surah An-Nas setidaknya sekali sehari — meski tampak kecil, jika dilakukan secara konsisten akan membuat perbedaan.
Bersamaan dengan itu, perbaiki tidur, kurangi kafein, dan jika perlu mintalah saran dari ahli kesehatan jiwa — hal ini tidak mengurangi iman sedikit pun. Mengobati penyakit adalah sunnah.